Selasa, 21 Februari 2017

Butiran Sendu

Butiran Sendu

Oleh : Luthfiah Zahra Larosa

Rintik hujan terjun satu persatu
Butir-butir airnya menyentuh atap rumahku
Memberikan suara pantulan gemercik hujan
Terdengar kacau dan tak stabil iramanya

Aku menatap langit hujan
Awan-awan gelap yang mengepul bersama
Mengucur deras mengolesi setiap permukaan di bawahnya dengan air hujan
Abu-abu membungkus langit
Terik tak terlihat menyapa siang ini

Menangis?
Apakah bumi sedang menitikkan air mata?
Suara-suara yang menyelutuk pada setiap permukaan yang terpantulkan
Sejurus menangis tersedu-sedu pada air mata hujan

Sejuta air yang ditumpahkan oleh sang kapas langit
Benarkah memberikan sejuta manfaat bagi bumi?
Para tumbuhan yang tak dianggap serta dirawat
Lantas anugerahlah yang didapatnya untuk ini

Sejuta air yang ditumpahkan oleh kapas langit
Benarkah memberikan sejuta kerguian bagi bumi?
Banjir bandang yang tak terelakkan
Lantas membungkam permukaan bumi

Tak bermaksud
Butiran hujan yang tumpah
Hanyalah akal-akalan bumi saja
Untuk melepas segala kepenatannya

Kepada para makhluk yang hidup didalam perut besarnya
Diperingatkan kepada yang berbuat semena-mena
Diberikan pula anugerah kepada yang berbudi mulia

Melalui tangisan bahagia atau pilunya






Read More

Jumat, 27 Januari 2017

Hukum Rimba Saat Ini

"Hari ini kalian harus mengerjakan tugas dengan berpasang-pasangan", ujar guruku suatu hari. Saat itu sedang berlangsung mata pelajaran Bahasa Indonesia. Terdengar kelasku mulai berisik. Sebagian tampak senang dengan penuturan guruku tadi. 

"Akan tetapi, pasangannya ada yang cewek-cowok, ada yang cowok-cowok dan ada yang cewek-cewek. Baiklah, saya akan memilih pasangannya", ujar guruku kembali. Seisi kelas semakin gaduh. "Kami yang pilih dong, bu!", protes salah satu temanku. Bagaimana denganku? Aku hanya diam saja. Yah, pasrah aja deh sama apa yang disuruh. Guruku itu menggeleng. "Mau saya pilih, atau dipilih saya?", tanya guruku. WAT?!. Sama aja kali! 

Ditengah kegaduhan, guruku menaikkan volume suaranya, mulai membacakan nama-nama siswa. Olalaaa, ternyata guruku memasang-masangkan kami semua sesuai dengan urutan absen. Hah, aku aman untuk tidak berpasangan dengan siswa laki-laki dikelas. Diatas namaku siswa perempuan. Begitu pula dibawah namaku. Saat guruku membacakan nama-nama itu, sebagian besar teman-teman sekelasku mengeluh dan tidak terima. "Saya gak mau sama dia, bu!", "Bu tolong ganti aja pasangan saya lah bu!", "Bu, pilih sendiri aja lah pasangannya". Begitulah beberapa ucapan yang aku dengar. Guruku tetap bersikeras tidak ingin mengubah pasangan siswa yang telah dipilihnya. "Ibu! Pokoknya saya gak mau sama dia! Gak mau!", ujar salah seorang teman (cowok) kelasku meronta-ronta. "Saya mohon bu. Saya gak mau", pintanya lagi. Ampun deh, sampai mohon-mohon segala. Pasangan untuknya itu baik menurutku. Kenapa dia tidak ingin mencoba bekerja sama? "Coba kamu pikir. Kamu sekarang nolak teman kamu. Emangnya kamu pikir teman-teman yang lain mau sama kamu?", ujar guruku. JLEB! Tepat sasaran disini (nunjuk ketek), ralat (nunjuk hati).
"Silahkan duduk dengan pasangan masing-masing!", perintah guruku. Beberapa temanku yang mendapat pasangan yang pas, langsung bergegas menemui teman pasangnya. Aku pun demikian. Saat aku akan bergegas untuk pindah, ternyata temanku yang lain masih duduk disamping pasanganku, sehingga aku harus menunggu sebentar hingga ia berpindah tempat. Suasanya hening tiba-tiba. Masih banyak sekali teman-teman lainnya yang belum beranjak ke tempat pasangannya. Mereka sepertinya benar-benar tidak ingin menerima pasangan belajarnya. Guruku yang menyadari tak ada gerakan, menegur. "Ayo, cepat pindah. Cari pasangannya masing-masing!". Hanya bisikan-bisikan mereka yang ku dengar. Tak ada yang bergerak. "Ayo, kalau kelamaan waktunya akan habis. Kita tidak sempat belajar nanti", perintahnya kembali. Beberapa dari mereka yang belum menjumpai pasangannya mulai beranjak satu persatu. Mereka mencari bangku yang kosong dan duduk bersebelahan. Aku mengamati mereka. Canggung, batinku. 

Tak ingin menghabiskan waktu, aku menyeret kursiku ke tempat pasanganku berada. Aku akan duduk nyempil saja disana. Temanku yang satunya itu belum pindah juga. "Ayo, pindah. Pindah sama pasangannya", perintah guruku untuk kesekian kalinya. "Ibu, saya gak mau sama dia!", "Ibu, dia mengganggu saya", "Ibu, cari pasangan lain aja lah". Tuaian protes mulai berkumandang dari sana-sini. Guruku tetap 'bersikekeh' tidak akan mengubah pasangan belajar murid-muridnya. Karena waktu terus terkuras, akhirnya teman-temanku itu beranjak dari tempatnya dan saling menemukan pasangan masing-masing dengan wajah 'terpaksa'. 

Saat yang lain sedang ricuh karena sibuk berpindah tempat dari ujung ke ujung, tak ada yang menyadari jika salah satu teman kelasku (cowo) yang menurutku sangat jahil mengganggu temanku yang lain (cowo). Dan secara tiba-tiba temanku yang diganggu ini naik darah, emosi. Dirinya berdiri sambil membawa... Aku tidak ingat saat itu dia memegang apa. Dia memegang sebuah benda dan terlihat akan memukul temanku yang jahil itu dengan benda yang ada ditangannya. Kebetulan temanku yang jahil ini bertubuh kecil dan temanku yang dibuatnya marah ini bertubuh lebih besar darinya. Otomatis seisi kelas gempar. Guruku langsung berlari ke arah mereka dan berdiri ditengah-tengah mereka. "Ada apa?!", tanya guruku panik. Kedua temanku itu langsung menjauhkan diri mereka masing-masing. Temanku yang terpancing emosi tadinya kemudian duduk kembali dikursinya dan tampak termenung. Sedangkan temanku yang jahil tersebut menjawab berbagai pertanyaan dari guruku dengan sesekali tertawa kecil. Aku tidak bisa mengerti keadaan seperti ini. Belum selesai dengan masalah ini, salah satu teman (cewek)ku datang dari belakang. Dirinya memprotes keras, tidak ingin dipasangkan dengan teman (cowok)ku yang jahil tersebut. Guruku tersebut tetap memasang raut stay cool sejak tadi. "Baik, sekarang coba semuanya duduk di kursi masing-masing", ujar guruku memerintahkan. Meskipun posisinya bangkunya tidak jelas dimana, mereka semua duduk dikursi masing-masing. Guruku berdiri di hadapan kelas, menatap wajah kami, murid-muridnya.Dan disinilah, guruku memulai. Mulai mengutarakan berbagai nasehat. Saat guruku sedang berbicara, aku mencatat segala yang diucapkan olehnya. Aku mendengarkan dan aku menuangkannya dalam tulisanku yang amburadul.  Mengapa aku menuliskannya? Bukankah itu sesuatu yang tidak menarik sama sekali? Aku merasa apa yang dikatakannya sangat benar dan memberikan motivasi yang besar, baik untukku dan juga teman-teman sekelasku yang turut mendengarkannya saat itu. 

_______________

Guruku memulai pembicaraan saat seluruh murid telah memutuskan untuk mengunci mulutnya rapat-rapat. Berdirilah guruku didepan kelas. 
"Kita sebagai manusia punya proses dalam hidup. Proses untuk menjadi dewasa. Tidak semudah yang kita bayangkan untuk menjadi dewasa. Faktanya orang yang jumlah umurnya banyak bahkan belum tentu dewasa. Dalam proses sekarang, disitulah untuk membentuk karakter kita. Jika kita salah kepada Allah, Allah maha pemaaf. Segala perbuatan kita dimaafkan. Sedangkan manusia, itu yang harus kita jaga. Bisa saja kita bersikap seperti itu karena teman kita. Atau teman kita seperti itu karena sikap kita. Kita disekolah, disini dididik sama-sama, yang nantinya akan menjadi satu angkatan. Peran seorang guru hanya memfasilitasi. 
Guru kalian silih berganti. Sedangkan teman sekelas kalian itu-itu aja. Setiap hari kalian bertemu dengan wajah teman sekelas kalian. Dengar, kita belum pernah menemukan persaingan. Bukan. Bukan sama teman sendiri yang sudah seperti saudara kita sendiri. Tapi saling. Saling belajar. 'Saya tak mau sekelempok dengan dia'. Itu tidak ada pada orang yang pemikirannya tidak baik. 'Apa yang membedakan aku dengan kalian?' Saya percaya bahwa orang-orang berilmu pikirannya luas, bisa berinteraksi dengan siapa saja. Bagaimana kalian bisa bersosialisasi dengan yang lain. Ketika saya membentuk kelompok. Ketika kita bersama dalam kelompok, kita tahu apa yang sebenarnya. Kita dapat lebih mengenal orang yang sebelumnya jarang kita ajak bicara. 'Oh ternyata dia seperti ini'. Ingat, guru itu tidak ingin muridnya menjadi orang yang buruk. Guru itu mengajar dengan ikhlas kepada kalian. Guru tidak ingin muridnya menjadi musuh. Tetapi jadilah teman/saudara", jelas guruku panjang lebar. Terdiam sebentar. Kemudian melanjutkan penjelasannya. "Junjung tinggi sikap menghargai. Penghargaan itu sangat penting. Hari ini dia yang salah. Besok kita yang salah. Ilmu tanpa dibatasi oleh sikap positif tidak ada gunanya. Yang penting perilaku santun. Hanya mengandalkan otak dan tak mengandalkan attitude... Gak ada yang butuh. 
Gimana kita bisa dihargai orang? Bisa menjadi sukses? Ketika orang mempercayai ilmu yang kita miliki, maka mereka lebih dahulu memastikan kepercayaan dengan sikap kita. Persaingan sekarang seperti hukum rimba. Siapa yang kuat dialah yang menang. Kali ini, siapa yang memiliki segalanya maka dia yang akan menang. Memiliki segalanya, yaitu kompetensi dan perilaku. Mungkin kalian belum lihat dunia lain diluar sana. Tapi percayalah, belajar itu tidak hanya membaca buku, tetapi belajar itu proses. Yang harus kalian ingat, hidup ini tentang saling menghargai. Udah, itu aja yang mau ibu bilang" 
Kami semua masih terdiam sejak guruku menuturkan berbagai nasihat. "Baiklah, sekarang kalian boleh berpindah tempat. Cari pasangan yang kalian inginkan", tutur guruku. Hanya 2-3 pasangan yang menukarkan posisi. Tampak yang lainnya (termasuk aku) tidak keberatan. "Sudah? Tidak ada yang ingin pindah lagi?", tanya guruku. Hening. "Baiklah, kalau begitu buka bukunya. Kita lanjutkan materi kita selanjutnya. Kita akan mengerjakan latihan dengan pasangan masing-masing", ujarnya. Dan setelah kejadian tadi, semuanya kembali berjalan seperti biasa. Hanya saja , saat guru tersebut memberikan latihan (tugas), aku melihat temanku yang menjadi korban kejahilan tadi permisi untuk keluar kelas. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan olehnya. Namun setidaknya, aku bisa merasakan bagaimana menjadi dirinya. Yah, mencoba mengerti teman sekelasmu sendiri. Bukan. Saudaramu sendiri. 




TAMAT












Jangan lupa komentar dan bagikan! :)
Read More

Jumat, 30 Desember 2016

Hanya Rembulan Yang Tahu

Hanya Rembulan Yang Tahu

Oleh : Luthfia Zahra Larosa


Keheningan pada malam ini...
Hanya desiran ombak yang terdengar...
Angin sepoi mengibas-ngibaskan gorden kamarku,,,
Jendelaku masih terbuka lebar mempersilahkan angin itu memasuki kamarku...

Tengah malam sudah saat ini...
Aku masih tak mampu memejamkan kedua mataku...
Ku buang semua pikiran yang merasuki diriku...
Ku lepas semua beban yang ada dipundakku...
Ku jauhi semua ketakutan akan bayang-bayang aneh dalam tidurku...

Udara dingin terasa menusuk kulitku...
Tak kuasa berlama-lama aku menahan rasa itu...
Ku langkahkan kakiku menuju ke arah jendela...
Berharap aku bisa menghilangkan dinginnya malam ini...

Sesaat aku akan menyibakkan gorden pada jendela kamarku...
Tampak seberkas cahaya rembulan bersinar terang...
Seakan hendak menyapaku dimalam yang sunyi ini...
Hanya rembulan yang aku rasa tahu...

Bahwa aku seorang diri...
Dan aku tak kuasa menahan rasa kesepian...









Read More

Tragedi Saat Liburan

Tragedi Saat Liburan


Aku dan keluargaku saat itu sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Ceritanya nih, udah selesai liburan. Dan sepanjang perjalanan aku mengalami kejadian-kejadian yang 'menegangkan'. Jadi saat itu, aku dan seisi mobil sedang asik menikmati pemandangan disepanjang perjalanan. 


Saat kami sedang menikmati keheningan masing-masing, mamaku memulai pembicaraan kembali. "Lihat, itu sapinya", ujar mamaku pelan. Kami semua mengikuti arah pandangan mamaku, ikut melihat para kawanan sapi tersebut. "Ngapain sih, sapinya bergerombol gitu?", tanya mamaku sinis. Sepertinya sapi-sapi yang agung itu berhasil membuat mamaku iri. Mungkin mereka lebih kompak dari rombongan arisan mamaku. Atau mereka tampak lebih menawan/?
"Udahlah, mah! Sama sapi aja kok iri!", ujar papaku heran. Aku pun tertawa kecil. "Ya enggak, aku kan cuma tanya", jawab mamaku kesal, sambil masih melihat sapi-sapi tersebut. Kali ini dilihat dari kaca spion mobil. "Ya suka-suka sapi lah mah! Kok mama ngurusin hidup sapi?", tanya papaku. "Kok papa malah belain sapi-sapi itu sih?!", jawab mamaku jengkel. "Gak usah urusin hidup sapi!", ujar papaku tegas, dengan wajah berwibawa. Tampaknya papaku benar-benar menjunjung tinggi hak asasi ke-sapi an. Salut. 
"Ya aku tanya aja kok!", ujar mamaku lagi. Beberapa saat kemudian...
"AWAS SAPI!", teriak mamaku. Dengan sigap dan setengah terlonjak oleh teriakan mamaku, papaku menghindari kawanan sapi yang sedang menyebrang jalanan dengan sembarangan. Dengan lincahnya papaku menghentak-hentakkan stir mobil ke kanan dan ke kiri agar tak tertabrak oleh mereka.

"PAH! KANAN! KANAN SAPINYA!"
"DIKIRI SAPINYA PAH!"
"PAH AWAS ITU SAPINYA DEKAT!"
"MINGGIR PAH MINGGIR!"
"NOO! SAPINYA MENDEKAT!"
"KANAN LIHAT PAH!"
"PAH KIRI JAGA JUGA!"
"KANAN!"
"KIRI"
"KANAN!"
"KIRI ITU PAH!"
"PAH KANAN!"

"PAAHHHH AWAS DI DEPAAAAAANNNNN!!!!!!!", teriakku kencang!

BRAAAAKKKK!

Oke...
Tenang, tenang...

Aku melihat ke sekitar. SYUKURLAH, KAMI MASIH SELAMAT. Tampaknya kami berhasil melewati jebakan maut tadi. Dan mamaku berhasil menjaga keselamatan para sapi. Dan keselamatan kita juga pastinya.

Sedang dalam masa untuk menenangkan diri, kembali lagi aku mendengar suara adikku.
"SAKTI! WANITA ITU BENAR-BENAR SAKTI!", teriak adikku tiba-tiba. Sontak, kami semua melihat ke arah yang dimaksud olehnya. "Subhanallah!", ucap mamaku. "Durian tak mampu melukainya", ujar papaku. "Bagaimana bisa dia memangku erat durian itu?", tanyaku ikut terkejut. "Itu karena ibu itu berisi! Jadi dagingnya kebal menahan duri-duri yang menancap", jawab adikku santai. Aku terheran-heran. "Mah, jadi pingin bawa pulang durian juga", ujar papaku. "Durian disini kan terkenal lezat dan kualitasnya lebih enak daripada durian di kota kita", sambungnya. Mamaku memangut-mangut. "Iya, benar juga ya, pah. Terus nanti mau ditaruh dimana duriannya? Bagasi kita udah penuh dengan barang bawaan. Tuh lihat! Raihan aja yang duduk dipaling belakang tempat duduknya pas-pas an", tanya mamaku panjang lebar. "Pelajari dari apa yang sudah dilihat", sahut adik kecilku. 

GLEK! Papa dan mama menatapku. "Jadi, yang paling berisi yang bisa tahan", ujar mamaku pelan. Gila! "Kakak yang pangku ya duriannya", lanjut papaku. "GAK! GAAKKKK", teriakku tidak terima, Secara tidak langsung aku dikatain... Gendut. "Kakak udah diet kok!", "Berat kakak udah turun!", lanjutku mengajukan pembelaan. Hening. "KAKAK! KAKAK!", sorak adik-adikku. "KAKAK! KAKAK!", ikut papaku. "GILAAAAA... GAK MAUUUU!!!! KENAPA GAK MAMA AJA?", ujarku ketakutan. "Loh, untuk apa mama punya anak kalau begitu?" balas mamaku stay cool. Aku tidak bisa membiarkan ini terjadi! Aku tidak tahan lagi! "TIDAAAAKKKK TIDAK AKAN KUBIARKAAAAN!"



TITTTTTT!



. . . .

Aku belum tewas. Aku masih hidup.

Semua itu kejadian nyata...
Saat ini aku terbaring sakit dirumah...



Dan kejadian-kejadian nyata itu... 

Pada kenyataannya juga, mamaku memang benar-benar mengomentari rombongan sapi tersebut dan papaku sempat bertemu dengan para rombongan sapi ditengah jalan. Akan tetapi, papaku hanya menghindar ke kanan sedangkan rombongan sapi tersebut terlewati begitu saja. Tidak ada aksi yang menegangkan daripada itu. 

Dan untuk terakhir kalinya, pada kenyataannya, memang aku dan keluargaku melihat sosok tangguh seorang ibu yang kala itu memangku beberapa durian dengan menumpangi sebuah motor. Akan tetapi papa dan mamaku sama sekali tidak menyuruhku untuk membawanya. Kami memang membawa durian. Namun kami membawa 'isi' durian, tidak dengan kulitnya lagi dan sudah dimasukkan ke dalam tupperware.

Perihal aku sakit, saat itu aku benar-benar sedang sakit. Sesampainya dirumah, aku segera terbaring diatas tempat tidur dan beristirahat.

Semua kecelakaan yang terkira semata-mata hanya imajinasiku dan ku harap itu tidak terjadi. Jangan mengganggu penumpang lain, bercanda berlebihan, membuat kegaduhan dan bertengkar didalam mobil ya guys! Hal-hal tersebut dapat memicu terjadinya kecelakaan. Terutama buat teman-teman yang sedang liburan juga nih, bareng keluarga. Atau yang sedang edisi pulang kampung. Semoga temaan-teman senantiasa dilindungi dan diberikan keselamatan dalam liburan tahun baru ini. Selamat berlibur! :)


Note :
Semua ini hanya fiktif belaka. Jangan ditiru! :3


Ini benar-benar cerita yang enggak jelas -3-



Read More

Kamis, 15 Desember 2016

Bintang Kirana

Bintang Kirana
Oleh : Luthfiah Zahra Larosa
HOMPIMPAH!
“Huaaaaa, aku kalah lagi nih?”, tanya seorang anak yang bernama Dendi. “Tentu saja!”, sahut temannya yang bernama Rina. Di lapangan hijau yang cukup luas, terlihatlah sekumpulan anak yang sedang bermain bersama. Siapakah mereka? Mereka adalah Dendi, Rina, Jona, Riki dan Nesi. “Oh ya, teman-teman! Malam ini, kita berkumpul lagi disini, yaaa!”, perintah Nesi. Yang lainnya mengangguk-angguk tanda setuju. “Kalau begitu, kita pulang sekarang?”, tanya Riki. “Memangnya kamu mau ngapain lagi disini, huh?”, tanya Dendi. Riki menggaruk-garuk tengkuknya yang sebenarnya tidak terasa gatal itu dan berkata, “Sebaiknya kita pulang sekarang, hehee...”. “Hooo, dasar kamu! Ayuk kita pulang kerumah masing-masing!”, ajak Jona. “Jangan lupa, kumpul kembali disini nanti malam!”, ujar Rina mengingatkan. Yang lainpun mengangguk pergi dan mereka saling melambaikan tangannya, berpamitan.
_____________________________________________________________
Malam harinya...
“Hai Rinaaa!”, sapa Nesi dari kejauhan. Nesi berlari-lari kecil *menuju safa dan marwah? #bukan. “Mana yang lainnya?”, tanya Dendi yang juga sudah ada di tempat itu dengan tak asabar. “Heiiii teman-teman!”, sapa Riki yang baru datang. “Hmm.. Tinggal Jona. Ada yang tau Jona sedang dimana sekarang?”, tanya Nesi. Sedangkan yang lainnya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hosh..Hosh... Ma..afkan aku.. Te...lat”, ujar Jona yang baru saja tiba dengan ngos-ngosan. “Tidak apaaa.. Ayukk. Duduk semuanyaaaa!”, perintah Nesi kepada teman-temannya. Mereka berlima duduk diatas rerumputan hijau tersebut. Kepala mereka mendongak keatas. “Dimana? Kenapa bintangnya tidak terlihat?”, tanya Rina sedih. “Bukan tidak terlihat, bintangnya memang tidak ada diatas sana”, jawab Dendi kecewa. Sama halnya dengan Dendi, teman-teman yang lainpun tampak kecewa. “Apa diantara kita ada yang berperilaku buruk?”, tanya Jona kesal. “Tentu saja tidak!”, jawab yang lainnya serempak. “Lalu, apakah diantara kita ada yang melakukan kesalahan serta menyembunyikannya dan belum meminta maaf?”, tanya Riki juga. “Tentu tidak”, jawab teman-teman lainnya kembali secara bersamaan. “Kalau begitu, mengapa mereka bersembunyi?”, tanya Riki. ....... Baca selengkapnya



Read More

Rabu, 14 Desember 2016

Terkubur Bersama Dedaunan

Terkubur Bersama Dedaunan

Karya : Luthfiah Zahra Larosa



Daun-daun berguguran...
Angin sepoi-sepoi menerpa diriku...
Aku menarik nafasku dalam-dalam...
Ku pandangi lembaran demi lembaran daun yang tergeletak diatas tanah..

Ku rogoh sakuku, mengambil sebatang pena yang kumiliki...
Kata demi kata...
Untaian beberapa kalimat telah tertuang diatas daun itu...
Dan untuk kesekian kalinya, aku merasakan kedatangan angin kembali...

Namun kali ini angin menyenggolku dengan sedikit kasar...
Hingga terbawalah daun yang sedaritadinya ada pada genggamanku...
Daun yang malang...
Tergeletak kembali diatas tanah...

Kubiarkan daun itu disana...
Kembali ku raih dedaunan lainnya...
Terpampang pengutaraan keluh kasahku disekujur bagiannya..
Kujatuhkan daun itu, mengembalikannya ke tempat semula...

Biarlah daun itu kembali ke tempatnya dengan membawa banyak hal...
Biarlah isi hatiku diketahui olehnya...
Setidaknya biarkan isi hatiku sekarang ini terkubur bersamanya...
Setidaknya, tidak akan ada orang yang mengetahui pengutaraanku pada dedaunan yang tergeletak tak berdaya itu...








Read More

Selasa, 13 Desember 2016

Mewujudkan Keinginanku

Mewujudkan Keinginanku



"Renaaaaaaaa!!", teriak seorang anak laki-laki dari kejauhan. Merasa terpanggil, gadis yang bernama Rena itu pun menolehkan kepalanya ke belakang, tepatnya ke arah sumber suara. "Loh, ada apa Mau?", tanya gadis tersebut. "Bisakah aku main ke rumahmu nanti siang? Ada banyak hal yang ingin aku diskusikan denganmu", ajak anak yang memanggilnya tadi. "Oh begitu. Tentu saja boleh! Ayuk kita pulang bareng", terima gadis kecil itu.

-Sepanjang perjalanan pulang.....
"Oh ya, Ren. Kamu ada rencana apa buat liburan nanti?", tanya Maulana, si anak laki-laki yang memanggil tadi. "Hmm.. Apa yaa? Aku juga belum tau nihhh.. Kalau kamu?", tanya Rena balik. "Aku? Aku.. Hmm.. Banyak yang ingin aku lakukan. Sangaaat banyak!", ujar Maulana sambil membayangkan sesuatu. Senyum Rena merekah. "Waaaah.. Keinginan seperti apa?", tanya Rena kembali. "Aku ingin menulis banyak hal untuk blogku. Aku juga ingin membuat rencana yang lain", jawab Maulana. Rena pun bertanya kembali,"Untuk apa?". "Untuk apa? Aku tidak ingin menganggur di waktu libur. Aku ingin melakukan sesuatu yang keren", ujar Maulana. Rena mengangguk-angguk. "Baiklah, kita berpisah disini. Sampai jumpa nanti siang dirumahku!", pamit Rena. 

_________________________________________________________________

Ting Ting! Handphone Rena berbunyi. Dengan segera Rena mengambil handphonenya untuk melihat pemberitahuan yang baru saja masuk. 'Ren, aku berangkat kerumahmu ya!'. Begitu isi pesan yang tertera dari Maulana. 'Okeee!', balas Rena.
________________________________________________________________________

"Hai Maulana! Ayuk masuk, silahkan duduk", sapa Rena. Maulana pun memasuki ruang tamu  dan segera duduk. "Jadi, kamu mau bahas apa?", tanya Rena to the point. Sedangkan Maulana, sedang sibuk mengeluarkan laptop dari tasnya serta menyalakannya, lalu tampak ia sedang mengutak-atik isi laptopnya. 

Maulana menyodorkan laptopnya dihadapan Rena. "Kenapa?", tanya Rena bingung. "Sekarang, aku minta kamu nulisin hal-hal, hobi dan bakat yang kamu sukai dan kamu inginkan disana", ujar Maulana sembari tangannya menunjuk ke layar laptop. "Waduh.. Apa ya? Aku tidak bisa mengingatnya sekarang", ujar Rena. "Tuliskan apa saja", jawab Maulana singkat. Akhirnya, Renapun tampak memikirkan sesuatu dan mencoba menulis beberapa hal yang diminta ke dalam laptop Maulana. 

"Aku sudah!", ujar Rena. Maulana mendekatkan wajahnya ke layar laptop. "Hanya ini saja?", tanya Maulana. Rena membalasnya dengan anggukan. "Lalu sekarang, bagaimana denganmu?", tanya Rena balik. Maulana tampak terkejut dan kebingungan. "Banyak.. Banyak hal yang sebenarnya ingin aku lakukan. Akan tetapi, aku kebingungan, apa yang harus aku lakukan", ujar Maulana. Matanya tampak sendu, berusaha mencari-cari hal yang bisa menerangi rasa bingungnya yang sedang dalam suasana redup. "Loh, bukankah kamu bilang sendiri tadi, bahwa kamu ingin melakukan hal yang keren pada liburan ini? Kenapa kamu tidak mencoba melakukan sesuatu?", tanya Rena. "Aku sudah melakukannya. Semalam aku menulis untuk postingan blogku sebanyak 10 halaman", jawab Maulana pelan. Rena terdiam sesaat, lalu kemudian jemari Rena mulai mengetik huruf demi huruf pada tombol keyboard laptop. 

Rena memperlihatkan isi layar laptop tersebut dihadapan Maulana. "Aku sudah menulis beberapa kesukaan dan bakatmu. Benar tidak?", tanya Rena memastikan. "Membaca, menulis, mengedit video, bermain game.. Hmm, benar juga sih", ujar Maulana membacakan isi tulisan Rena satu per satu. "Nah, sekarang, apa yang ingin kamu lakukan diantara daftar ini?", tanya Rena kembali. Raut wajah Maulana tampak semakin bingung. "Aku ingin melakukan sesuatu dari semua itu, namun aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan", ujar Maulana.  "Kalau begitu, lakukan sesuatu", saran Rena. "Tentu. Akan tetapi, terlalu banyak keinginan dalam diriku untuk melakukan seusatu yang keren dan bermanfaat. Aku serasa ingin melakukan semuanya", jelas Maulana panjang lebar. "Kamu tidak bisa melakukan semuanya sekaligus, Mau. Kamu harus melakukannya satu-satu. Jika tidak, hasilnya akan setengah-setengah dan kamu akan rugi besar telah membuang waktu untuk hasil yang tidak sempurna", jelas Rena. "Iya, aku tau Ren. Aku hanya tidak tahu apa yang ingin aku lakukan dengan semua itu. Aku benar-benar iri padamu dan teman-teman yang lain yang sudah membuat suatu hal yang tampak keren dan bermanfaat. Sedangkan aku? Aku hanya bisa memikirkannya terus-menerus tanpa tahu apa yang akan aku lakukan dengan segala keinginanku tersebut", jelas Maulana kembali.

"Bukankah kau sudah menuliskan sesuatu untuk postingan blogmu?", tanya Rena. Maulana mengangguk pelan. "Lalu, kenapa tidak segera kamu posting saja pada blogmu?", tanya Rena kembali. "Itu belum selesai dan aku bingung bagaimana aku akan memuatnya dari bentuk 10 halaman itu", jawab Maulana. "Kamu bisa melakukannya satu per satu. Ingat Maulana. Jangan begitu memikirkan apa yang akan orang bicarakan apabila kamu mengepostnya. Maksudku, jangan begitu memikirkan dari sudut pandang orang lain. Sudut pandang orang lain itu berbeda dan bisa saja berubah dengan adanya perasaaan. Apakah mereka termotivasi maupun terhibur dengan isi postinganmu. Tidaklah kamu harus membuat sesuatu itu agar tampak 'keren' dimata orang lain", saran Rena panjang lebar. Maulana mengernyitkan dahiya. "Akan tetapi, yang akan membaca postinganku itu kan orang lain, tentu saja aku akan memikirkan bagiamana sudut pandang mereka melihat apa yang aku perbuat", jawab Maulama sedikit membantah. "Memang benar, kamu tetap harus memikirkan bagaimana orang menanggapinya. Tapi bagiku, itu bukan hal  yang harus diutamakan. Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah lakukan apa yang kamu inginkan dengan yang terbaik bagimu, bukan bagi orang lain. Tentu saja, kalau kamu sudah berpendirian teguh untuk melakukan hal yang terbaik bagi dirimu dengan mencintai keinginanmu, kamu butuh usaha. Pernah dengar tidak, pepatah yang mengatakan bahwa 'Kerja Keras Tidak akan Pernah Mengecewakan Hasil'? Meskipun ini sekedar mengisi waktu, mengembangkan bakat dan memanfaatkan hobi, kamu butuh kerja keras. Kerja keras bukan berrarti dalam hal kamu harus melakukan sesuatu yang berat, ya. Artinya, yang kamu perlukan adalah kesungguhan dan kepercayaan diri untuk melakukan itu. Nah, sekarang, biarkan dirimu berpikir,. Tenangkan pikiranmu. Pikirkan dengan Apa, sih yang akan kamu lakukan dengan naskah postingan blog ini? Bagaimana aku akan melakukannya? ", jelas Rena. "Bagaimana jika aku menemukan titik buntu?", tanya Maulana. "Berpikir secara anak-anak", jawab Rena. Maulana terkejut. "Maksudmu apa?", tanyanya lagi. Rena tertawa kecil. "Maksudku bukan berpikir kekanakan, akan tetapi berpikir secara anak-anak. Saat kita masih anak-anak, inspirasi bahkan datang dari dalam diri kita sendiri. Bukankah kamu sudah membuat banyak hal dimasa kecil? Kita bahkan tidak perlu jauh-jauh mencari inspirasi. Diri kita pada masa itu hanya mengandalkan diri sendiri dan kesukaan kita terhadap apa yang sedang kita lakukan. Maka ide itu akan datang sendiri nantinya. Bisa tidak?", tanya Rena. Maulana mengangguk pelan. "But, kalau hasilnya tidak begitu memuaskan.. Tidak jelek, hanya saja kurang memuaskan orang yang aku perlihatkan, bagaimana?", tanya Maulana balik. Rena tersenyum kecil. "Tentu saja itu tidak apa-apa! Yang kamu perlukan disini adalah mengutarakan semua keinginanmu dalam bentuk apapun yang kamu sukai, bukan yang orang lain inginkan, oke? Ini kan, kamu lakukan atas dasar permintaan dan keinginan dirimu sendiri. Jadi tidak masalah bagi orang lain hasilnya seperti apa. Bagi orang lain, usahamu lah yang dihargai. Banyak kok, yang belum bisa menjadi sepertimu dan berharap bisa memiliki keinginan sebesar dirimu. Jangan begitu memfokuskan dirimu untuk terburu-buru menjadi keren. Butuh tahapan. Dan kamu tidak perlu mengawali tahap-tahap itu dari yang buruk. Mulailah dari yang biasa, itu tidak masalah. Apa kamu tidak enak dilihat oleh orang yang lebih hebat dari kamu? Hmm.. Apabila kamu merasa seperti itu, sebaiknya hilangkan. Tetaplah percaya diri. Tentu saja, mereka tidak akan meledekmu. Seperti yang aku katakan sebelumnya, lakukan dengan sebaik mungkin namun semampumu. Maka orang-orang yang melihatmu juga akan menghargai apa yang kamu perbuat. Mereka bahkan tidak memiliki ide secemerlang kamu, mengapa kamu harus merasa 'tidak keren'? Sangat baik apabila kamu bisa memulainya sekarang. Karena, dengan lebih cepat lebih baik. Untuk selanjutnya kamu dapat mengambil ilmu dari orang yang lebih hebat dari kamu. Nah, disitulah kamu bisa mencoba memperbaiki satu per satu kesalahanmu. tidak perlu menyesali, namun terima dengan senang. Kamu tidak akan bisa memperbaiki apapun jika kamu bahkan belum mencoba. Kamu hanya akan 'ingin' memulai hal yang baru dengan sempurna, namun pada akhirnya ada saja hal yang membuatmu belum cukup untuk sempurna", jelas Rena kembali. "Waaah, iya, benar juga, sih. Lalu, apa yang sebaiknya aku lakukan sekarang?", tanya Maulana. "Lakukanlah, lakukan apa yang kamu mau. Sekarang , kamu bisa ngeposting naskah yang sudah kamu kerjakan. Lakukan sebaik yang kamu mampu",jawab Rena.

"Oh iya, kamu juga bisa kok, membuat sebuah iklan mobil-mobil keren yang kamu mainkan dalam balapan. Pamerkanlah mobil-mobil karyamu itu dalam sebuah video satu persatu dan jelaskanlah. Sisipkan lagu yang kamu sukai. Dan cobalah mendapatkan reaksi teman-temanmu. Jangan takut dianggap anak-anak, karena kamu sedang berkreasi dan menciptakan sesuatu yang menarik, tak hanya keren saja. Itu lebih membantu kamu untuk menarik banyak orang. Apalagi, dengan kemampuan mengeditmu yang hebat!", ujar Rena. Maulana mengangguk-angguk,. Wajahnya mulai berseri-seri. "Lakukanlah apa yang bisa kamu lakukan. Jangan biarkan keinginanmu menumpuk. Itu hanya akan lenyap dengan sia-sia, atau tersimpan dengan sia-sia. Ubahlah keinginan itu menjadi suatu ide. Carilah inspirasi dengan membaca, menonton dan bahkan bisa kamu dapatkan dari teman-temanmu. Kalau sudah menjadi ide, untuk apa kamu simpan? Segera kamu keluarkan selagi itu masih hangat. Kalau tidak, pada ujung-ujungnya saat kamu mencoba mengemukakan ide itu kembali, akan buntu/tergantung tak tau arah. Dan ingat, jangan buru-buru. Cukup tulis kenginan serta ide-idemu. Lalu kembangkanlah satu per satu. Karena aku temanmu, kamu bisa minta bantu padaku kok. Ayo, lepaskanlah pikiranmu. Pikiranmu terlalu padaat dengan banyaknya keinginan untuk mrnjadi ini itu. Kamu keluarkan keinginan tersebut. Pilih satu untuk pertama kali. Lalu kembangkanlah. Begitu pula seterusnya. Maka, dalam liburan yang akan terasa singkat nantinya, tak terasa kamu sudah menyelesaikan semua keinginanmu dengan sebaik yang kamu bisa. Percayalah, kamu akan merasa puas dan bangga dengan apa yang sudah kamu kerjakan semaksimal yang kamu inginkan,meski bukan semaksimal yang orang lain harapkan. Love your self terlebih dahulu", ujar Rena. "Asikkk. Berarti, bisa kan kita mulai kerja sama?", ajak Maulana. Rena tersenyum lebar. "Tentu! Siap bos, ada yang bisa saya bantu?", ujar Rena cekikikan. Maulana pun geli dengan sikap Rena dan akhirnya mereka berdua tertawa bersama-sama. Duh, punya teman dengan bisa memotivasi satu sama lain itu, menyenangkan ya! He..he..he...  





TAMAT




Btw, cerita ini kupersembahkan buat teman dekatku yang sedang kebingungan arah. Wkwkw, semoga saja bisa membantu! 
Bahkan kamu sudah hebat bisa memiliki berbagai keinginan tersebut. Kenapa tidak mencoba untuk menjadi lebih hebat dengan mewujudkannya? :)



Read More