Siapa Bilang Norak? Anggun Kok!
Oleh : Luthfiah Zahra Larosa
Jakarta. Kota tempatku tinggal. Dimana sebagian
masyarakatnya sangat up to date dengan
tren, fashion atau semacamnya. Oh ,
iya. Namaku Tasya. Aku berama Islam, kok. Hanya saja aku berpenampilan gaul, jadi berbeda dari orang-orang Islam lainnya. Ikut trend gitu loh. Aku dikenal sebagai cewek
paling modis, fashionable, dan tentu
saja aku sangat populer disekolah. Yang naksir sama aku? Banyak pastinya. Adanya keberadaanku, baik disekolah maupun
ditempat-tempat lain selalu berhasil menarik perhatian orang banyak. Rambutku
lurus, kulitku cerah, dan tentu saja tubuhku body goals banget. Gayaku gak norak kok. Paling risih jika memakai
gelang emas atau semacamnya. Secara. penampilanku hanya sederhana namun tetap gaul. Baju kaos dan rok mini, serta
sepatu sandal adalah gayaku. Hidupku sangat menyenangkan. Aku memiliki
teman-teman yang asik, kedua orang tua yang kaya raya, serta merta memberikanku
kebebasan untuk melakukan segala hal yang aku inginkan dan seorang kekasih yang cukup tampan, sama
populernya denganku. Lengkap sudah kebahagiaanku, bukan? Yeah, pada awalnya aku juga berpikiran seperti itu. Hingga suatu
hari, pemikiranku berubah total. Ini bukanlah kehidupan yang menyenangkan. Sama sekali bukan.
__________
Saat kenaikan kelas tiba. Seluruh siswa dari setiap masing-masing kelas
diacak. Aku berpisah dengan teman-teman dekatku. Dikelas baruku, aku berkenalan dengan seorang cewek yang
penampilannsya iuh banget. Dia
terlihat norak. Aw! Aku segera
mengalihkan pandanganku ke tempat lain. Setelah itu teman-teman kelas baruku
yang lain satu persatu memasuki ruang kelas dan pelajaran dilangsungkan.
Saat istirahat tiba, cewek yang terlihat norak itu
menghampiriku. Dengan tampang sok,
aku menyambutnya. Tak disangka, cewek itu mengulurkan tangannya padaku. Hei,
apa-apaan ini?! Agar terlihat baik, aku menyambut uluran tangannya sebentar,
lalu melepaskannya. Dia tersenyum padaku. Apa-apaan
sih nih cewek!
“Perkenalkan. Namaku Reina. Aku sudah lama mengenalmu, hehe.
Tasya, kan?”, ujar cewek itu padaku. “Ehm, iya”, jawabku cuek. Hah, siapa sih
yang gak kenal sama cewek popular seperti aku? “Aku juga udah sejak lama
memperhatikan kamu, loh”, sambung cewek itu. “Terus?”. “Enggak apa-apa sih”,
jawabnya ragu-ragu. Aku menaikkan sebelah alisku, heran. “Terus apa yang kamu
lihat dariku? Aku cantik? Populer? Kaya? Ya, tentu seluruh murid di sekolah ini
mengetahui hal itu. Lalu mengapa? Apa kamu mau bergabung denganku? Mau sok
kenal?”, ujarku panjang lebar. Memalukan sekali berbicara lama-lama dengan cewek
sepertinya. Bisa-bisa orang lain mengira bahwa aku temannya. Idih, ga bangetsss.
“Hahaha.. Iya, kamu benar. Kamu cantik, menawan”, ujarnya
singkat.
“Sayang sekali, tampaknya aku lebih anggun darimu”, sambung cewek itu.
Aku membelalakkan mataku. Terkejut. “Ups,
ngaca dulu deh ya”, balas gue.
Tampak cewek itu tersenyum kecil. “Maka
sebaiknya kamu berkaca terlebih dahulu. Sudah benarkah pakaianmu? Sudah
anggunkah kamu?”, tanyanya padaku.
“Apa urusanmu dengan penampilanku, hah?”,
balas gue ketus. Bisa-bisanya dia mengkritik kelebihanku.
“Kukira kamu siswa
yang pintar. Bagaimana bisa kamu masih percaya diri hidup dan tampil dihadapan
orang banyak dengan pakaian seperti itu? Tidak pernah belajar agama, ya?”,
tanya cewek itu padaku. Kali ini tatapannya menajam.
Aku tidak takut. Namun
perkataannya sangat menyinggungku. “Tolong, deh ya. Jangan sok suci! Berani
sekali kamu berbicara seenaknya untukku. Jilbabin dulu tuh hati. Jangan cuma
nilai aku dari fisik doang! Aku anak yang baik. Semua orang tau itu. Aku tidak
pernah mengganggu apalagi menyakiti orang lain. Maka jangan mengkritikku seenak
jidat!”, ucapku kesal. Ini benar-benar keterlaluan, deh
.
“Wah, parah. Aku tidak mengatakan bahwa aku ini suci. Aku
berjilbab. Pakaianku sesuai syari’at. Tetapi aku ini hanyalah seorang manusia. Sama
sepertimu. Aku juga tidak luput dari segala dosa dan kesalahan. Tapi alangkah
baiknya, kamu harus punya rasa malu. Membiarkan kekasihmu melihat auratmu. Kamu
bahkan membiarkan orang-orang melihat sebagian besar tubuhmu yang terekspos. Hanya
dijadikan bahan pemuas oleh laki-laki. Tidakkah itu memalukan? Dimana harga
dirimu?”
Lagi-lagi aku terkejut. Kata-katanya memang sangat menusuk.
Aku bahkan merasa bahwa apa yang dikatakannya benar. Tidak, Tasya. Aku tidak
boleh kalah dengannya. “Kalau begitu lepas saja jilbabmu! Cuma untuk pencitraan
saja, kan? Toh kamu juga tetap dapat dosa dengan sifatmu yang buruk seperti
itu. Dan jaga kata-katamu! Kamu pikir aku apa, hah?”
“Tidak. Aku tidak sebodoh itu. Memakai jilbab itu kewajiban
bagi para wanita seusia kita. Dan ketika kamu membiarkan orang-orang melihat
satu helai saja rambutmu, maka 70 ribu tahun nerakalah yang kau terima saat
nanti. Berapa banyak tahun yang sudah kau kumpulkan untuk di neraka nanti? Apa
kamu sudah siap? Sayang sekali, auratmu terlalu murah. Bahkan orang-orang saja
dibayar untuk didapatkan. Perlu kamu ketahui, harga diri kit a tidak dapat
dibeli dengan apapun. Ingatlah.”
Aku terdiam. Kali ini aku mulai ketakutan. “Ka.. Kalau
begitu, apa maumu?”, tanyaku tergagap. “Tutupi seluruh tubuhmu dengan jilbab.
Pakailah khimar. Jangan sampai tubuhmu yang indah itu dinilai murah, bahkan
gratis. Jadilah anggun”, jawabnya.
Aku mulai berpikir panjang. Lalu bagaimana dengan
teman-temanku? Aduh, aku bakal dianggap culun dan norak jika aku berpakaian
seperti yang dikatakannya. Tetapi… Kalimat-kalimat menusuk itu benar adanya.
Dosa. Sudah berapa banyak dosa yang aku kumpulkan? Semurah apakah diriku telah
dipandang?
“Teman-temanku tidak akan menerima perubahanku. Itu akan
terlihat norak”, ujarku beralasan.
“Kamu ingin tampil cantik dihadapan siapa?”, tanyanya pelan.
“Tentu saja dihadapan kalian semua. Siapa lagi? Dan siapa
sih yang bakal suka denganku jika berpenampilan sepertimu?”, ujarku ketus.
“Ada, kok”. Jawabnya singkat.
“Siapa?”
“Apa kamu tidak pernah menganggap keberadaan-Nya? Wah wah…
Tidak tau berterima kasih”, sindirnya padaku.
“Siapa?”, tanyaku lagi.
“Allah. Tuhanmu. Penciptamu. Tuhanmu yang tidak akan pernah
meninggalkanmu. Tuhanmu yang memberikan rejeki padamu hingga saat ini. Yang
memberikan kehidupan padamu. Tanpa-Nya, kamu bukanlah apa-apa. Bukankah kamu
tau, bahwa suatu saat nanti kita akan kembali kepada Allah? Kamu pikir kamu
bisa menghadap pada-Nya seperti itu?”
Aku terdiam. Lidahku kelu. Tak mampu aku berkata-kata lagi..
Bulu kudukku merinding. Aku bahkan berani menentang perintah Tuhanku sendiri?
Sungguh, aku tidak pernah memikirkan-Nya selama ini. Dunia telah mengelabuiku.
Tubuhku bergetar.
“Sadarlah. Segeralah betaubat. Mumpung kamu masih diberi
kesempatan untuk hidup. Kamu tak akan tau kapan kamu akan mati. Bagaimana jika
kamu mati saat….”, “Cukup!”, teriakku.
Aku ketakutan setengah mati. Berapa lama
lagi aku akan hidup? Sudah berapa lama aku menghabiskan umur dengan perbuatan
maksiat yang menentang ajaran Allah?
“Aku tidak tahan lagi. Tolong, aku ingin berubah. Ini sangat
memalukan dan menakutkan. Kuharap aku masih bisa diberi umur untuk bertaubat.
Kumohon bantu aku kembali kejalan yang benar”, pintaku padanya. Kali ini aku
serius. Tampak cewek itu tersenyum lebar padaku. “Sungguh? Kamu serius??”,
tanyanya senang. Aku mengangguk pasti.
Tak kusangka juga, setelah kejadian yang tak terduga itu
terjadi, Perlahan tapi pasti. Aku mulai berubah sedikit demi sedikit. Tidak
ingn aku sia-siakan kehidupanku untuk mengumpulkan dosa. Mengumpulkan pahala
itu juga mudah, kok. Kenapa tidak mencoba yang lebih baik bukan?
Kali ini aku merasa benar-benar cantik sepenuhnya. Tentu
saja cantk dihadapan Allah. Aku sangat bangga. Aku ingin dicintai oleh Allah,
sebagai hamba yang taat akan perintah-Nya. Bukan untuk dicintai oleh
orang-orang karena nafsu semata. Tidak ingin aku memberikan ‘zina mata’ kepada
orang-orang lagi. Cukup sudah.
Norak? Tidak. Sama sekali tidak. Ini benar-benar nyaman. Kamu akan terlihat anggun dan mulia. Kamu bukanlah seseorang yang mudah didapatkan mahkotanya. Kecantikanmu misterius. Tampilanmu tertutup, tidak mengundang syahwat. Kaum Adam tidak akan tergoda olehmu. Allah memuiakanmu. Bukankah benar-benar anggun dengan seperti itu? Sungguh, lebih menawan daripada berlian sekalipun. Tidak bisa ditandingi oleh apapun. Tidak bisa dihargai dengan apapun. Sangat anggun!
Perlu kalian ketahui bahwa aku telah memutuskan hubungan
dengan kekasihku. Kekasihku itu… Saat melihatku dengan kerudung panjang dan
baju yang tertutup, dia menatapku dengan jijik. Rei benar. Auratku adalah mahkotaku. Tentu
saja saat aku menutupi mahkotaku, laki-laki diluar sana (termasuk mantan
kekasihku) tidak akan mendekatiku lagi. Mengapa? Karena mereka selama ini
mendekatiku karena nafsu semata. Aku benar-benar dianggap rendah oleh mereka.
Oh, cukup. Tidak untuk kali ini. Biarlah dia membenciku seperti ini. Aku tidak
takut sama sekali. Sesungguhnya aku merasa lebih aman ketika lebih dekat dengan
Allah. Aku terhindar dari segala perbuatan maksiat yang memang dapat merugikan
diri sendiri. Apapun yang diperintahkan oleh Allah SWT bukanlah membuat kita
untuk tidak bebas. Tetapi untuk memberikan aturan yang terbaik bagi hambanya,
agar tidak celaka. Sungguh Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tanpa kita
ketahui, Allah melindungi kita melalui segala perintah-Nya.
Penasaran dengan kabar teman-teman asikku? Mereka sudah
hilang. Awalnya mereka meremehkanku, mencaci-maki dan menganggapku sebagai
pengkhianat. Namun aku terus berbuat baik kepada mereka. Aku berubah karena
Allah. Aku tidak perlu membenci mereka. Toh mereka dulunya juga teman-temanku.
Yah, maksudku teman-teman asikku. Sampai sekarang, mereka tetaplah
teman-temanku. Lebih asiknya, kusebut mereka ‘Teman-teman Hijrahku’. Mereka
memutuskan untuk mengikuti jejakku. Kembali dengan sosok dan niat yang berbeda. Aku bangga memiliki teman-teman seperti mereka. Ingatlah, segala perbuatan yang baik serta
niat yang tulus juga akan tertular kepada orang-orang disekitarmu. Tidak ada
orang yang dapat menularkan energi baik
tersebut? Maka jadilah si pemberi energi baik! Kalau bukan kamu, siapa lagi? Jangan takut. Allah senantiasa melindungi
hamba-hambanya yang taat.
Jika kamu sayang kepada teman-temanmu. Ajaklah mereka
untuk bersama-sama ke Surga. Kumpulkan pahala bersama-sama, hindari kemaksiatan
bersama-sama. Lebih menyenangkan dan asik bukan?
Satu hal yang pastinya harus kamu niatkan.
“Aku berniat
untuk hijrah, karena Allah”
Dan mulai dari sekarang, segera katakan, “Bismillah… Aku
berjanji tidak akan mengumbar aurat dan tetap taat pada segala perintah-Mu Ya
Allah. Aku janji akan hijrah menjadi lebih baik.”
Sudah berjanji? Ayo lakukan mulai sekarang. Jangan sampai
kamu menyesal karena maut telah menjemputmu terlebih dahulu. Itu tidak sesimpel
yang kalian bayangkan. Persiapkan diri kalian, yaaaaaa… Aku mendukung kalian,
para pembaca.
Tidak ada yang tidak mungkin. Semua bisa dengan tekad dan usaha. Masa
sih, kamu lebih percaya sama omongan dan kata-kata manusia. Percayalah Allah
senantiasa ada disisimu. Imanmu, adalah cerminan kehidupanmu. Iman yang baik,
mencerminkan kehidupan yang baik.
1...
2...
3...
Katakan pada dirimu "AKU SIAP HIJRAH!"
1 komentar
Josh... Mapir juga kesini ya... http://wafishiddiq.com
EmoticonEmoticon